tembok yg kokoh kini hanya lukisan rapuh yg menggambarkan sarang
laba-laba hitam yg berwarnakan kehidupan,bercatkan air mata dan kuas
penderitaan. Hari mulai senyap embun pengharapan kian turun titik-
titik gerimis kian jelas terlihat menatap jauh semu cermin sang jati
diri. Kaku tuk ucapkan rahasia hati menatap jingga dalam pelaminan
nestapa,mengayuhkan sampan pada titik keabadiaan meratap tangis
menyayat berbelok ragu pada kenyataan,kenyataan yg belum pernah
teraih. Kerinduan yg menggumpal bagai penyakit yg menjalar pada
tubuh”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar